Menjadi walikota tentunya tidak harus Profesor, tidak juga harus doctor. Siapa saja yang bisa 'belajar cepat' memahami kondisi masyarakat dan tahu apa yang harus dilakukannya, tahu akan tupoksinya, maka dia punya hak yang sama untuk menjadi Walikota.
"Tidak hanya itu, seorang pemimpinpun harus punya keberanian. Pemimpin yang berani jelas tidak bisa menghindari dari yang namanya kontroversi. Kontroversi itu adalah hal yang positif. Kalau kita melihat definisi kontroversi, maka kontroversi adalah seseorang yang memperdebatkan sesuatu, mempertanyakan sesuatu atau orang yang kritis. Bagi saya sebagai seorang ahli management, kontroversi itu dibutuhkan oleh seorang pemimpin. Pemimpin harus kritis. Dan selalu mempertanyakan segala sesuatu, bahka kadang-kadang harus bertengkar. Itu gambaran harfiah daripada kontroversi." Jelas Hasan Abas Nusi.
Bertengkar dengan orang yang punya jabatan lebih tinggi itu tidaklah salah, asalkan masih berada pada posisi yang benar, kata Hasan Abas Nusi. Benar dalam konteks aturan, dan benar dalam konteks nilai-nilai Tuhan, "Kalau you merasa benar berdasarkan aturan dan nilai-nilai Tuhan, maka dengan siapapun, sekalipun itu malaikat, you bisa bertengkar". kata Hasan. Persepsi Hasan Abas Nusi tentang kontroversi ini berangkat dari apa yang pernah dipelajari dan dialaminya. "Dulu saya pernah berdebat denga Gubernur Sulut Worang. Dalam banyak hal saya selalu berdebat dengannya." sentil Hasan yang juga dosen management.
Menurut Hasan, kalau lawan debat berada pada posisi salah, maka wajib bagi kita untuk melakukan perlawanan. "Ingat! Islam mengajarkan tentang amar ma'ruf nahi munkar. Kota harus lawan sesuatu yang salah. Tapi ingat kita pun harus tetap berada pada koridor aturan. Dan kalaupun memang salah, maka secara gentle kita harus mengakui kesalahan itu."
Dan terkait denga keberadaa Adhan Dambea dalam setahun kepemimpinannya, Adhan sudah membuat perubahan-perubahan yang signifikan terutama dalam upaya meminimalisir banjir. Adhan sudah melakukan start yang bagus. Di satu tahun pertama ini, Adhan telah melakukan tugas-tugas pokoknya sebagai Walikota, kata Hasan Abas Nusi. lebih lanjut dikatakan bahwa membenahi infrastruktur-infrastruktur seperti saluran merupakan langkah yang sangat tepat dalam rangka meminimalisir banjir di kota Gorontalo.
Menurut Hasan Abas Nusi yang pernah mengenyam ilmu tentang penataan Kota di Inggris, infrastruktur saluran sangat memiliki peranan penting dalam penataan dan pemeliharaan wilayah perkotaan. Menurutnya apa yang telah dilakukan Walikota Gorontalo Adhan Dambea persis dengan apa yang pernah dibuatnya saat menjabat sebagai Walikota Gorontalo pada dekade 70-an.
"Saya masih ingat betul waktu saya masih Walikota, Kota Gorontalo mulai sering dilanda banjir. Dan begitu saluran saya benahi termasuk salurah yang dibuat oleh Pemerintah Belanda, banjir mulai terminimalisir. Dan hal yang samapun telah dilakukan oleh Adhan Dambea yang terbukti banjir mulai berkurang."Kata mantan Walikota Gorontalo ini.
