Sunday, January 16, 2011

MENDOBRAK TRADISI

 DR Yulianto Kadji MSi

Adhan adalah tokoh yang tegas, konsisten dan memiliki jiwa social yang tinggi tanpa membeda-bedakan status orang yang dibantunya.
“Meski belum lama mengenal Adhan, namun ada banyak hal menarik dari diri Walikota Gorontalo itu.”
Penegasan seperti itu disampaikan pakar kebijakan public yang juga staf pengajar Universitas Negeri Gorontalo (UNG) DR Yulianto Kadji MSi. Kata Yuliato, secara pribadi dirinya mengenal Adhan sejak tahun 1987, dan selama ini pula selalu berinteraksi dalam berbagai hal. “Bukan lantaran Adhan lebih senior dari saya, tapi karena dalam berorganisasi di era 1990-an saya Ketua Kosgoro dan Adhan Ketua AMPI yang sama-sama merupakan organisasi kekaryaan.”

Yang menarik di diri Adhan lanjut Yulianto, adalah penampilannya. Adhan merupakan sosok yang tegas, tapi berusaha sebisa mungkin tidak sampai bentrok fisik alias adu otot. “Tidak sedikit lawan politiknya menghormati beliau ketika bertemu, ini yang menarik. Dan selama kami  berorganisasi hamper tidak pernah ada masalah. Dari tahun 1987 sampai 1998 saya di organisasi KNPI dan menjadi akademisi, Adhan lanjut menjadi politisi.”
Sebagai seorang akademisi, Yulianto mengamati model kepemimpinan Adhan yang dianggapnya berangkat dari rakyat tingkat bawah. “Maka sesungguhnya apa yang menjadi keinginan dan kebutuhan itu lebih dipahami dan diketahui Adhan.”
Begitu juga dari segi kebijakan public, Yulianto menilai Adhan memiliki pandangan yang realistis. “Artinya Adhan sudah memahami apa yang harus dan apa yang tidak boleh dilakukannya. Adhan adalah tokoh yang tegas, konsisten, dan memiliki jiwa social yang tinggi tanpa membeda-bedakan status social orang yang dibantu. Maka saya melihat model kepemimpinan yang dijalankan adalah model kepemimpinan sinergitas, networking dan bukan saatnya lagi kepemimpinan power.”
Lakon yang diperankan Adhan bagi Yulianto, bukanlah barang haram untuk diterapkan di Kota Gorontalo untuk saat sekarang ini. “Ukurannya bukanlah layak atau tidak, tetapi bagaimana orang bisa memahami dan mendalami apa yang sebenarnya yang diinginkan oleh Adhan sebagai Walikota. Memang banyak orang merasa kaget karena selama ini walikota selalu berlatar birokrat yang penuh dengan aturan dan birokrasi yang bertele-tele.”
Artinya Adhan kini sedang memberikan pendidikan kepada masyarakat bagimana untuk tidak lagi terjebak pada ide-ide rutinitas.
Maka sisi positif yan bisa diambil adalah pelayanan pada masyarakat lebih penting ketimbang urusan lainnya. “Lihat saja dari sisi birokrasi ditingkat satuan kerja, pada awalnya kesulitan menyesuaikan diri, tapi lambat laun mereka bisa memahami dan mengikuti alur pikiran Adhan.”
Adhan itu identik dengan kontroversi, kata Yulianto. Dan kalau tidak kontroversi maka itu bukan Adhan. “Kontroversi itu merupakan gaya kepemimpinan dan kalau diolah dengan manajemen skill yang baik dan bagus, maka dampaknya akan ada loncatan-loncatan kebijakan yang tegas dan signigikan. Ketegasan itu melahirkan keberanian dan keberanian itu muncul dari seorang yang konsisten dalam memperjuangkan aspirasi dan kepentingan rakyatnya.”
Dari prestasi kepemimpinan yang sudah diperlihatkan Adhan, sudah bisa dirasakan saat ini. “Idenya untuk menjadikan Kota Gorontalo sebagai kota entrepeneur, kota jasa yang bersandar pada sector pendidikan, mulai terbentuk meski belum terlihat jelas.”
Dalam hal penanganan banjir yang selalu menjadi langganan di Kota Gorontalo, Adhan berhasil meminimalisirnya dengan berbagai terobosan menarik. Diantaranya dengan akan melakukan perpindahan pusat pemerintahan di kawasan Kota Utara dan pusat perekonomian di Kota Selatan. “Maka nantinya akan ada pertumbuhan kawasan perekonomian masyarakat.”
Demikian pula rencana perpindahan Terminal Andalas ke Dungingi, kedepan diprediksikan akan tumbuh kekuatan ekonomi baru. “Ini luar biasa dan tidak pernah dipikirkan walikota-walikota sebelumnya.”
Pada masa kepemimpinan yang lalu, dinamika pemerintahan dan pembangunan kemasyarakatan sangat ditentukan oleh birokrasi dan rutinitas.
Karena itu Yulianto mengusulkan kedepannya, Adhan sebagai walikota harus ada terobosan bau, diantaranya dengan mereview kebijakan public yang selama ini dianggap kaku dan tidak berpihak kepada masyarakat banyak. “Skala prioritasnya adalah bagaimana membangun tim kerja yang solid dan didukung oleh system SDM aparatur yang handal. Karenanya perlu rekrutmen penempatan jabatan tim kerja sesuai kualitas dan bidang keahliannya.”