Gelar pendidikan formal adalah penting dan yang lebih penting adalah apakah kita belajar atau tidak.
Nama Adhan Dambea adalah sebuah pelajaran bagi kita, rakyat Kota Gorontalo. Begitu banyak kekurangan yang dia miliki.
Diantara kita tidak sedikit yang mendongkol, sakit hati bahkan mungkin ada yang mendendam karena sepak terjang Adhan. Tapi faktanya Adhan adalah Walikota Gorontalo hari ini. Dialah yang mengeluarkan kebijakan-kebijakan daerah, pemimpin politik dan berkuasa serta bertanggung jawab atas segala administrasi pemerintahan kota kita. Ya, karena kita telah memilihnya menjadi walikota.
Ketika diminta oleh editor buku ini untuk menulis artikel ini, saya belum membaca isi buku sama sekali. “Tolong tuliskan pikiran Ka Elnino tentang Adhan Dambea, akan kita masukkan di buku yang akan dicetak besok.” Pinta Fadli Poli kepada saya. Saya senang sekali diberi peluang ini; menulis bebas dan apa adanya tentang seorang tokoh yang cukup kontroversial, menulis kritik terhadapnya di dalam buku yang bercerita tentang dirinya.
Saudaraku, marilah kita membaca Adhan sebagai sebuah pelajaran, sebagai sebuah hikmah.
Ditahun 2002, Herdiyanto Yusuf redaktur Tabloid Bingkai yang saya pimpin menulis artikel menarik berjudul “Si Bengal Adhan Dambea”. Disitu sang penulis menguraikan dengan luar biasa bangaimana Adhan yang berjuang dan meniti karir politiknya benar-benar dari bawah, dari jabatan tukang sapu di kantor DPD II Golkar Kota Gorontalo. Ketika membaca tulisan itu 7 tahun lalu, saya pribadi berfirasat bahwa Adhan Dambea bakal menjadi tokoh politik yang kuat.
Salah satu ciri khas politik Adhan adalah ‘politik perlawanan’. Dia seringkali melawan tokoh politik yang secaa struktrual lebih tinggi darinya, sambil ‘merawat’ para bawahan politiknya untuk mematikan perlawanan terhadap dirinya. Kita masih ingat bagaimana dia berani berseberangan politik dengan Ketua Golkar Kota Gorontalo Nurdin Monoarfa. Pada pemilihan Walikota Gorontalo oleh DPRD Kota Gorontalo pada tahun 2003, Adhan adalah tokoh sentral kekalahan Nurdin yang notabene dicalonkan oleh Golkar. Saat itu Golkar memiliki 13 dari 25 anggota DPRD Kota Gorontalo, mayoritas mutlak. Tetapi Nurdin kalah 12-13 dari Medi Botutihe yang dicalonkan oleh PPP. Proses politik itu tidak lepas dari peran Adhan Dambea.
Politik perlawanan seperti itu pula yang menjadikan Adhan Dambea Ketua DPRD Kota Gorontalo dan ketua Golkar Kota Gorontalo tahun 2004. Jatuhnya “Sang Panglima Politik” Ahmad Pakaya dari Ketua Golkar Provinsi Gorontalo pun tidak lepas dari politik perlawanannya yang dilancarkan Adhan Dambea. Bahkan dia secara terbuka bersiteru dengan Fadel Muhammad tokoh politik nomor satu didaerah ini. Jadinya tokoh-tokoh politik lokal Gorontalo pun menyeganinya terutama mereka yang berada di bawah payung partai Golkar.
Disisi lain, tampaknya Adhan juga menyadari bahwa politik perlawanan itu bisa juga mengancam dirinya sewaktu-waktu. Para politisi Golkar yang dia pimpin bukanlah orang-orang yang mau manut begitu saja. Adhan tidaklah seperti Megawati yang memiliki jutaan loyalis. Para politisi di kubu Adhan adalah mereka yang umumnya bersahabat dengannya karena kepentingan politik semata. Sangat jarang kiranya orang yang mendukung Adhan karena ikatan emosional yang kuat. Jelas ada juga potensi munculnya politik perlawanan terhadap Adhan, tetapi dengan kekuatan diplomasinya dikalangan elit-elit lokal, Adhan sejauh ini dapat meminimalisasi peluang terjadinya ledakan politik perlawanan terhadap dirinya. Dia bahkan mampu menciptakan suasana yang membuat orang lain terpaksa berada dibarisannya. Semacam prinsip mantan Presiden USA, George Bush, “With me…. Or against me” ketika menaklukkan Afganistan, Irak, dll.
Kekuatan politik terbesar yang dimiliki Adhan Dambea bukanlah pada premanisme (pendekatan kekerasan) seperti yang banyak disinyalir orang. Modal politik Adhan adalah pada penguasaannya terhadap peraturan-peraturan resmi ; UU, PP, Kepres, Kepmen, Perda dll. Banyak kalangan yang dibuat kecele ketika mengkritik atau mendebatnya karena ternyata Adhan tidak melanggar aturan. Kalaupun dia melanggar aturan, terlalu sedikit yang tahu tentang pelanggaran yang dia lakukan. Dari yang sedikit itu, lebih sedikit lagi yang berani bersuara. Dari yang berani bersuara itu pun hamper semuanya dibuat frustasi, bahkan merasa terancam dan pada akhirnya pasrah. Tinggallah satu dua orang yang masih berani mengritik Adhan secara terbuka, itupun kalau diberi ruang oleh media massa (tentu saja bila medianya juga berani).
Lihatlah pada pemilu 2004, Adhan memenuhi persyaratan “ijasah SLTA dan atau sederajat” dengan menyetorkan ijasah persamaan. Dia juga mengikuti ujian paket C yang mungkin akan dibutuhkan sewaktu-waktu. Dalam waktu yang tidak lama kemudian dia mengantongi ijasah Sarjana Sosial dari Universitas Sam Ratulangi Manado dan berhasil meraih gelar Magister dari Universitas Gajah Mada. Sungguh luar biasa, sekilas memang tidak masuk akal. Tetapi dalam pemenuhan persyatan administrasi politik, bukan kisah proses pencapaian gelar yang dibutuhkan melainkan secarik kertas ijasah yang sah dan diakui oleh hukum itu cukup. Bagi saya pribadi, keahlian praktek politik yang demikian itu melebihi kemampuan sebagian besar sarjana ilmu politik, suatu kecerdasan yang patut diakui walau tidak bisa diterima sebagian orang.
KONTORVERSIAL
Adhan mengundang kontroversi di masyarakat, iya itu benar. Sebab dia sering berada dipihak yang berseberangan dengan elit-elit daerah. Tetapi itu tidak cukup untuk mengatakan Adhan sebagai tokoh kontroversial. Mestinya kita juga melihat kontroversi Adhan didalam dirinya sendiri.
Sebagai contoh ketika dia menjadi Ketua DPRD Kota Gorontalo, Adhan berada di pihak yang menolak penggusuran Rumah Makan APO di tahun 2004 oleh pemerintah Kota Gorontalo pimpinan Medi Botutihe. Penolakan itu karena aturan. Namun di tahun 2008 Walikota Adhan menggusur belasan rumah di Talumolo, itu juga karena aturan. Kontroversinya disitu, pada aturan-aturan yang dia gunakan untuk menentukan kebijakan.
Contoh lainnya adalah pada persoalan kritik mengkritik. Di tahun 2007 Adhan menulis di Gorontalo Post mengenai kritikan terhadap Fadel Muhammad. Di artikel itu dengan begitu elegan Adhan tampil intelektual dan mengatakan bahwa kritik terhadap Fadel bukanlah pertanda tidak menyukai Fadel, melainkan untuk membantu Fadel agar tidak mengeluarkan kebijakan yang merugikan orang banyak. Namun ketika Walikota Adhan dikritik, terkadang telinganya juga memerah. Wajar memang, bila orang yang merasa berbuat yang terbaik untuk orang banyak kemudian tersinggung karena orang malah mengkritik apa yang dibuatnya. Tetapi bagi seorang Adhan yang sudah melalui proses panjang dalam politik mestinya kritik itupun diterimanya dengan senang hati.
Mungkin Adhan bisa legowo dan tetap tampil cerdas ketika dikritik. Persoalannya adalah segelintir orang dekat Adhan yang kurang sabar dan belum terlatih untuk berkomunikasi secara baik-baik. Mereka inilah yang lebih cepat ‘panas’ ketika ada yang melancarkan kritik terhadap Walikota Adhan. Sepertinya Adhan perlu untuk melatih kesabaran dan komunikasi personal dari orang-orang tersebut sebab langsung maupun tidak langsung citra politik Adhan Dambea juga terpancar dari orang-orang dekatnya.
ADHAN BISA APA
Dalam politik ada dua pertanyaan pokok yaitu ‘apa bisa’ dan ‘bisa apa’. Untuk pertanyaan pertama, Adhan sudah menjawabnya. Dengan segala kontroversi yang sering mewarnai perjalanan politiknya, Adhan BISA jadi Ketua DPRD, dia juga BISA jadi Ketua Golkar Kota Gorontalo, dia BISA jadi Walikota , ya… dia bisa. Adhan adalah sebuah fenomena politik yang mesti benar-benar dipelajari oleh mereka yang terjun ke dunia politik di Kota Gorontalo.
Mari belajar dari Adhan Dambea saudaraku…, kita perlu banyak bertanya kepadanya bagimana caranya berkarir dalam politik. Selebihnya kita dapat menerapkan pengetahuan yang diberikannya kepada kita dengan gaya dan karakter kita sendiri agar kita dapat muncul sebagai diri sendiri dan bukan sekedar “murid Adhan Dambea”.
Pertanyaan kedua “Bisa Apa?”, hingga hari ini belum terjawab tuntas. Pertanyaan ini akan terjawab dengan sendirinya ketika Adhan merampungkan masa ke-Walikota-annya. Saat itulah kita bisa mengambil kesimpulan umum tentang apa saja yang dilakukan Adhan Dambea baik yang positif maupun negative, sekali lagi untuk menjadi pelajaran bagi kita.
Sebagai penutup, saya berterima kasih kepada penulis dan editor buku ini yang telah memberikan kepercayaan kepada saya menulis tentang Adhan Dambea, seorang tokoh politik yang senantiasa saya kagumi penguasaannya terhadap berbagai aturan. Sayapun berterima kasih kepada Bapak Walikota Adhan Dambea yang telah memberikan pelajaran yang penting bagi saya. Salah satu pesan pak Adhan yang tidak bisa saya lupakan adaha “Nino, tolong kritik pemerintahan saya.” Pesan yang sebetulnya disampaikan kepada semua orang. Maka marilah kita menghormati Walikota Adhan Dambea dan memberikan kritik terhadap kebijakan-kebijakannya secara fair demi kepentingan seluruh rakyat Kota Gorontalo. Jangan lupa, harus sesuai aturan…! Wasalam.
