By : ADHAN DAMBEA
Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa Lala (Raden S Abdullah) Direktur Puslitbang Tribun Gorontalo menyamakan saya dengan Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta yang terkenal dengan kotroversi di era 1970-an. Yang perlu diketahui, dinamika demokrasi negeri ini terus bergulir deras sampai hari ini.
Seorang pemimpin kini sudah semakin dekat dengan yang dipimpinnya yaitu rakyat. Ini karena pemilihan pemimpin itu sendiri sudah dilakukan secara langsung. Yang paling up date dan menyita perhatian public, tidak sedikit para pemimpin kemudian memaksakan diri menampilkan model kepemimpinannya, dari yang biasa-biasa hingga yang dikategorikan controversial.
Secara etika, politik kontroversi itu merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja, selagi itu ditujukan bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Demikian halnya dengan pembelajaran politik, prilaku kotroversi banyak memberi manfaat bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang pemimpin demi memajukan masyarakatnya. Mungkin fenomena itulah yang membuat Lala dkk menyusun dan menulis buku tentang saya dan kontroversi. Lala mungkin prihatin dan protes mengapa prilaku saya yang sebenarnya biasa-biasa saja disebut kontroversi.
Ingat, orang bilang ‘mulutmu harimaumu!’ dan ‘Lidahmu harimaumu!’. Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan betapa pentingnya setiap penggalan kata yang terucap dari lidah kita. Akibat satu aau dua kata yang terucap, orang lain bisa terluka hatinya, merasa difitnah, dituduh, direndahkan, dan didzalimi. Meskipun tidak ada maksud untuk itu, namun maksud baik saja terkadang tidak cukup apabila tidak ditunjang dengan cara penyampaian yang benar.
Saya sadar, sebagai pemimpin seluruh tindak tanduk saya belumlah sesempurna yang diharapkan. Dan bagi saya dengan mengemban amanah sebagai pemimpin ini tidak ada alasan privasi lagi atau perbedaan pernyataan pribadi atau jabatan yang diemban. Yang jelas setiap kata yang terucap dari mulut saya akan menjadi sesuatu yang bernilai atau bermakna. Saya berharap seluruh pemimpin menyadari posisi dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Kearifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya haruslah melebihi kearifan dan kebijaksanaan masyarakat yang dipimpinnya. Penyakit controversial sedapat mungkin harus dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat sehinga ketokohan dan kepemimpinannya benar-benar menjadi manfaat, pelajaran dan rahmat bagi seluruh stakeholder daerah dan bangsa ini.
Saya jadi teringat kisah seorang Tan Malaka yang terkenal dan salah satu sosok controversial yang paling berpengaruh dimasa revolusi Indonesia tahun 1940-1950an. Tan merupakan seorang politisi tangguh dan pendiri partai Murba yang terkenal sosialis, namun dia dibekali dengan ilmu agama yang cukup kuat. Diusianya yang masih muda, tokoh controversial ini langsung terjun kedalam gelanggang politik. Dengan semangat berkobar-kobar dari sebuah gubuk miskin, Tan mengumpulkan pemuda-pemuda. Tan juga dikenal pro dengan perlawanan terhadap Belanda.
Tetapi karena pemikirannya yang dianggap membahayakan, maka diapun dibuang keluar negeri diantaranya ke United Soviet Socialist Republic. Oleh karenanya tidak heran kalau pengaruh Soviet dan Komunis sangat kental dalam darah lelaki yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 28 Maret 1963.
Pada awalnya saya tidak mengerti mengapa Lala (Raden S Abdullah) Direktur Puslitbang Tribun Gorontalo menyamakan saya dengan Bang Ali, Gubernur DKI Jakarta yang terkenal dengan kotroversi di era 1970-an. Yang perlu diketahui, dinamika demokrasi negeri ini terus bergulir deras sampai hari ini.
Seorang pemimpin kini sudah semakin dekat dengan yang dipimpinnya yaitu rakyat. Ini karena pemilihan pemimpin itu sendiri sudah dilakukan secara langsung. Yang paling up date dan menyita perhatian public, tidak sedikit para pemimpin kemudian memaksakan diri menampilkan model kepemimpinannya, dari yang biasa-biasa hingga yang dikategorikan controversial.
Secara etika, politik kontroversi itu merupakan hal yang wajar dan sah-sah saja, selagi itu ditujukan bagi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakatnya. Demikian halnya dengan pembelajaran politik, prilaku kotroversi banyak memberi manfaat bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi seorang pemimpin demi memajukan masyarakatnya. Mungkin fenomena itulah yang membuat Lala dkk menyusun dan menulis buku tentang saya dan kontroversi. Lala mungkin prihatin dan protes mengapa prilaku saya yang sebenarnya biasa-biasa saja disebut kontroversi.
Ingat, orang bilang ‘mulutmu harimaumu!’ dan ‘Lidahmu harimaumu!’. Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan betapa pentingnya setiap penggalan kata yang terucap dari lidah kita. Akibat satu aau dua kata yang terucap, orang lain bisa terluka hatinya, merasa difitnah, dituduh, direndahkan, dan didzalimi. Meskipun tidak ada maksud untuk itu, namun maksud baik saja terkadang tidak cukup apabila tidak ditunjang dengan cara penyampaian yang benar.
Saya sadar, sebagai pemimpin seluruh tindak tanduk saya belumlah sesempurna yang diharapkan. Dan bagi saya dengan mengemban amanah sebagai pemimpin ini tidak ada alasan privasi lagi atau perbedaan pernyataan pribadi atau jabatan yang diemban. Yang jelas setiap kata yang terucap dari mulut saya akan menjadi sesuatu yang bernilai atau bermakna. Saya berharap seluruh pemimpin menyadari posisi dan konsekuensi yang harus dihadapinya. Kearifan dan kebijaksanaan yang dimilikinya haruslah melebihi kearifan dan kebijaksanaan masyarakat yang dipimpinnya. Penyakit controversial sedapat mungkin harus dikaitkan dengan kebutuhan masyarakat sehinga ketokohan dan kepemimpinannya benar-benar menjadi manfaat, pelajaran dan rahmat bagi seluruh stakeholder daerah dan bangsa ini.
Saya jadi teringat kisah seorang Tan Malaka yang terkenal dan salah satu sosok controversial yang paling berpengaruh dimasa revolusi Indonesia tahun 1940-1950an. Tan merupakan seorang politisi tangguh dan pendiri partai Murba yang terkenal sosialis, namun dia dibekali dengan ilmu agama yang cukup kuat. Diusianya yang masih muda, tokoh controversial ini langsung terjun kedalam gelanggang politik. Dengan semangat berkobar-kobar dari sebuah gubuk miskin, Tan mengumpulkan pemuda-pemuda. Tan juga dikenal pro dengan perlawanan terhadap Belanda.
Tetapi karena pemikirannya yang dianggap membahayakan, maka diapun dibuang keluar negeri diantaranya ke United Soviet Socialist Republic. Oleh karenanya tidak heran kalau pengaruh Soviet dan Komunis sangat kental dalam darah lelaki yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 28 Maret 1963.
Sumber : Kontroversi Itu Perlu
