Bisa jadi, kelas yang diajar oleh Syahril Hasan dulunya merupakan kelas pejabat sekarang.
Pasalnya jika mau diingat-ingat, mantan muridnya ternyata sudah banyak yang menjadi pejabat penting didaerah ini. "Lihat saja, ada Adhan Dambea yang sekarang Walikota, Ishak Liputo sekarang Ketua Fraksi DPRD Provinsi Gorontalo. Belum lagi Mohamad Enggowa dan Dr.Sarson Pomalato yang jadi Guru Besar di UNG"Kata Syahril Hasan Guru Adhan di STN Gorontalo dengan bangga.
Sekedar diketahui, pendidikan saat itu tidaklah sama dengan kondisi saat ini. "saat itu masih dipengaruhi oleh pendidikan kolonial Belanda dengan menggunakan rotan yang dilapisi emas pada ujungnya."cerita Syahril. "Kebetulan perjumpaan saya dengan Adhan ketika kelas 2 STN, bertepatan dengan pertamakalinya saya mengajar disekolah tersebut." Kepemimpinannya memang sudah kelihatan saat itu dimana dia selalu terpilih sebagai ketua kelas. Dan yang berkesan adalah ketika saya memukul Adhan dengan rotan. Karena memang dia nakal. Dan yang bikin saya jengkel, dia sering mengajak teman-temannya sekelas untuk bolos saat akan memasuki jam belajar saya dikelas."
Tahu begitu, keesokan harinya mereka dikumpulkan dilapangan dan diinterogasi satu persatu. "kenapa kalian pulang saat jam pelajaran saya? mereka menjawab, kami diajak ketua kelas pak..!!" papar Syaril mengenang apa yang disampaikan muridnya kala itu.
Sayangnya, hari itu justru Adhan tidak hadir di kelas. "besoknya baru saya panggil dia, dan tanpa tanya lagi langsung saya hantam dia dengan rotan."
Namun dibalik semua itu kata Syahril, sebagai guru dirinya sangat bangga dengan Adhan."Di Kelas dia termasuk anak pintar, waktu itu saya guru gambar datar. Nilainya tidak pernah buruk, saya juga sangat bangga dengan programnya untuk Kota Gorontalo setelah jadi Walikota Gorontalo sekarang ini".
Syahril menegaskan bahwa Adhan merupakan orang yang sangat konsisten menjalankan programnya. "Dia lebih hebat daripada Medi Botutihe. Jika dilihat saat dirinya membongkar tenda biru, saya berharap pak walikota maju terus, walaupun ada tantangan-tantangan, itu adalah resikonya. Saya merasa bangga dengan dia, dengan keberhasilan-keberhasilan yang nampak, apalagi dengan misinya untuk menjadikan Kota Gorontalo menjadi Kota Madrasah.
Yang perlu diingat, kata Syahril, orang tua Adhan Dambea itu wrga Syarikat Islam (SI). "Dan tante pertamanya bernama Desi adalah perempuan pertama yang menjadi Aleg dari PSII saat itu". Anak-anak dari tantenya ada Femi, Tini. Jadi, Adhan memang berasal dari keluarga yang bergelut dibidang politik.
Pasalnya jika mau diingat-ingat, mantan muridnya ternyata sudah banyak yang menjadi pejabat penting didaerah ini. "Lihat saja, ada Adhan Dambea yang sekarang Walikota, Ishak Liputo sekarang Ketua Fraksi DPRD Provinsi Gorontalo. Belum lagi Mohamad Enggowa dan Dr.Sarson Pomalato yang jadi Guru Besar di UNG"Kata Syahril Hasan Guru Adhan di STN Gorontalo dengan bangga.
Sekedar diketahui, pendidikan saat itu tidaklah sama dengan kondisi saat ini. "saat itu masih dipengaruhi oleh pendidikan kolonial Belanda dengan menggunakan rotan yang dilapisi emas pada ujungnya."cerita Syahril. "Kebetulan perjumpaan saya dengan Adhan ketika kelas 2 STN, bertepatan dengan pertamakalinya saya mengajar disekolah tersebut." Kepemimpinannya memang sudah kelihatan saat itu dimana dia selalu terpilih sebagai ketua kelas. Dan yang berkesan adalah ketika saya memukul Adhan dengan rotan. Karena memang dia nakal. Dan yang bikin saya jengkel, dia sering mengajak teman-temannya sekelas untuk bolos saat akan memasuki jam belajar saya dikelas."
Tahu begitu, keesokan harinya mereka dikumpulkan dilapangan dan diinterogasi satu persatu. "kenapa kalian pulang saat jam pelajaran saya? mereka menjawab, kami diajak ketua kelas pak..!!" papar Syaril mengenang apa yang disampaikan muridnya kala itu.
Sayangnya, hari itu justru Adhan tidak hadir di kelas. "besoknya baru saya panggil dia, dan tanpa tanya lagi langsung saya hantam dia dengan rotan."
Namun dibalik semua itu kata Syahril, sebagai guru dirinya sangat bangga dengan Adhan."Di Kelas dia termasuk anak pintar, waktu itu saya guru gambar datar. Nilainya tidak pernah buruk, saya juga sangat bangga dengan programnya untuk Kota Gorontalo setelah jadi Walikota Gorontalo sekarang ini".
Syahril menegaskan bahwa Adhan merupakan orang yang sangat konsisten menjalankan programnya. "Dia lebih hebat daripada Medi Botutihe. Jika dilihat saat dirinya membongkar tenda biru, saya berharap pak walikota maju terus, walaupun ada tantangan-tantangan, itu adalah resikonya. Saya merasa bangga dengan dia, dengan keberhasilan-keberhasilan yang nampak, apalagi dengan misinya untuk menjadikan Kota Gorontalo menjadi Kota Madrasah.
Yang perlu diingat, kata Syahril, orang tua Adhan Dambea itu wrga Syarikat Islam (SI). "Dan tante pertamanya bernama Desi adalah perempuan pertama yang menjadi Aleg dari PSII saat itu". Anak-anak dari tantenya ada Femi, Tini. Jadi, Adhan memang berasal dari keluarga yang bergelut dibidang politik.
