Thursday, January 6, 2011

Kata Pengantar

By: H.RADEN S. ABDILLAH

Tidak berlebihan kalau saya menyebut sosok Adhan Dambea sebagai Bang Ali-nya Gorontalo. Sebab dalam sejarahnya, Gubernur Ali Sadikin saat membangun Kota Jakarta yang notabenenya ibukota Negara banyak berhadapan dengan berbagai persoalan yang cukup njlimet (rumit) namun dirinya tak gentar.
Sebagai seorang walikota, Adhan Dambea memang belum bisa dikatakan sukses mengendalikan ibukota Provinsi Gorontalo sebagaimana halnya Bang Ali di Jakarta dulu. Karena memang usia pemerintahannya baru setahun. Tapi yang pasti secara tidak langsung Adhan Dambea sudah berhasil sudah berhasil membangun image positif kepada masyarakat yang sangat plural.
Sebut saja misalnya, perang terhadap praktek maksiat dan ingin menjadikan Kota Gorontalo sebagai Kota m Madrasah. Banyak buah pikirannya diprediksikan akan melahirkan proyek spektakuler yang nantinya akan dinikmati warga Gorontalo atau bahkan warga dari daerah-daerah dikawasan teluk tomini. Bukan itu saja, lelaki kelahiran Desa Luwoo ini juga mencetuskan pasar keliling dalm rangka memberdayakan para pedagang kaki lima. Bersamaan dengan itu, berbagai aspek budaya Gorontalo coba dihidupkan kembali.
Sebagai seorang politisi yang memulai kariernya dari nol. Adhan Dambea memang memiliki watak dan sikap yang keras. Dengan dasar itulah pada awalnya Gubernur Gorontalop mendukungnya untuk memimpin Kota Gorontalo. Meski keras, namun Adhan Dambea cukupp merakyat, tak heran jika warga Gorontalo begitu mencintainya. Sebagai Walikota, Adhan Dambea tak pernah sungkan untuk turun langsung kelapangan meski harus naik turun kendaraan umum.
Namun langkah controversial Adhan Dambea kerap melahirkan hasil sensasional, kalau Bang Ali melegalkan pusat hiburan malam dan melegalkan perjudian, justru Adhan melarang kegiatan yang dilarang agama itu diwilayahnya. Jadi jangan heran bulan-bulan pertama memimpin Kota Gorontalo program yang dilakukannya adalah menutup praktek prostitusi di beberapa lokasi dan membenahi berbagai penginapan yang melegalkan maksiat. Adhan Dambea tidak ingin pajak dan pendapatan daerahnya dihasilkan dari pekerjaan-pekerjaan yang haram. Karena itu dia membereskan semua kemaksiatan yang selama ini dilegalkan.
Kontroveris yang dilakoni Adhan Dambea selama setahun menjabata sebagai Walikota Gorontalo, semata-mata untuk kepentingan umum dan bukan pribadi. Apalagi Kota Gorontalo tercatat sebagai Kota Serambi Madinah yang 98% masyarakatnya penganut agama Islam. Sehingga banyak pihak yang menerima idenya itu. Jujur saja, di daerah ini hampir tidak ada sosok pemimpin yang berani mengambil keputusan seperti itu.
Dari latar belakang inilah kemudian kami tergerak hati untuk menuliskan kiprah dan sepak terjang seorang Adhan Dambea dalam memimpin Kota Gorontalo selama setahun pertama, dalam sebuah buku.
Ada 4 Bagian yang kami tuangkan dalam buku ini, bagian pertama dibahas soal latar belakang sosok Adhan Dambea dengan melibatkan berbagai sumber dari kalangan keluarga serta kerabat dekatnya, dibagian kedua buku ini dijelaskan soal pendapat para tokoh terhadap Adhan Dambea. Berikutnya dibagian ketiga akan dipublikasikan berbagai kliping Koran tentang Adhan Dambea.
Lebih dari semua itu, kami tetap menyadari dan mengakui bahwa keberadaan buku ini memang jauh dari kesempurnaan, mengingat waktu yang diberikan sangat singkat yakni 2 minggu. Namun demikian apa yang kami lakukan sudah maksimal. Akhir kata, kami mengucapkan syukur kepada Allah SWT, karena dengan tangan dan kehendak-Nya tugas yang diberikan bisa rampung sesuai harapan. Tidak lupa terima kasih juga disampaikan kepada kawan-kawan yang tergabung dalam Puslitbang Tribun serta crew Tribun Gorontalo yang sudah bekerja maksimal merampungkan penulisan buku ini dengan hanya dalam waktu 2 pekan.
Ucapan terima kasih yang tak terhingga dihaturkan langsung kepada Adhan Dambea, S.Sos (Walikota Gorontalo) yang telah memberikan komentar serta uneg-unegnya dalam buku ini. Begitu juga kepada Pimpinan SKPD se Kota Gorontalo yang dipimpin oleh Ir. Nurdin Mokoginta, MM (Sekda Kota Gorontalo)
Mudah-mudahan keberadaan buku ini bisa menjadi referensi sekaligus bahan belajar bagi siapa saja yang berminat dalam membangun daerah dan pemerintahan local di Provinsi Gorontalo, amien.