"Saya mengenal Adhan Dambea sejak di organisasi AMPI tahun 1981-1992. dimana pada saat itu sama-sama mengikuti kegiatan pelatihan kepemimpinan" kata Prof Dr Nelson Pomalingo, MPd Rektor Universitas Negeri Gorontalo (UNG).
Pembaca teks deklarasi perjuangan Provinsi Gorontalo ini mengaku ada banyak hal ketika bicara soal Adhan. "Pertama model kepemimpinannya yang perlu diakui memiliki jiwa membangun yang tinggi dan besar."
Hal ini menurutnya bisa dilihat dan dibuktikan dengan rutinitas dan komitmen untuk turun langsung melihat serta menghimpun aspirasi masyarakat sampai di tingkatan kelurahan dan pelosok kota. "Kalau demikian adanya, maka Adhan harus diperkuat dengan orang-orang yang memiliki kualitas dan komitmen membangun yang dapat menciptakan perencanaan pembangunan secara terpadu dan berfikir jangka panjang. Saya kira dia punya semangat membangun yang tinggi."
Lebih dari itu, Nelson menilai Adhan sebagai pribadi yang keras dan ketegasan serta disiplin. "Watak yang ditanamkan Adhan dalam menjalankan kepemimpinan di Kota Gorontalo merupakan wujud dan semangat dalam membangun daerah. Oleh karenanya jangat terjebak pada jangka pendek. Karena dalam program pembangunan itu tidak instan, artinya tidak harus diwujudkan sekarang namun butuh waktu untuk mewujudkan realisasi program pembangunan dan itu membutuhkan konsep yang sinergis dan jangka panjang."
Guru Besar UNG itu juga menjelaskan bahwa pada era reformasi dan keterbukaan sekarang ini, harus menjadi perhatian bahwa sosok Adhan adalah dalam rangka berkomunikasi dengan partisipasi masyarakat. "Jadi ada waktu-waktu tertentu untuk menjadi keras. Namun karena masa kepemimpinannya baru setahun dia sudah mampu melihat ada kondisi-kondisi untuk dilakukan perubahan dan itu harus dilakukan. Hanya saja untuk merealisasikannya butuh kontribusi dan dukungan semua pihak. Baik melalui komunikasi dan menghimpun aspirasi dari masyarakat kalangan bawah."
Nelson menganggap tindakan yang sering dianggap kontroversi dari diri Adhan sebenarnya dilatarbelakangi oleh semangat membangun dan itu merupakan poin yang baik untuk seorang Adhan Dambea dalam memaksimalkan wujud realisasi program pembangunan di Kota Gorontalo.
""Akan tetapi dengan semangat membangun tidak cukup. Masih sangat membutuhkan banyak hal termasuk diantaranya sinergi, komunikasi, adaptasi, serta keterlibatan dan partisipasi semua pihak. Karena apabila unsur-unsur itu tidak dilakukan maka bisa saja kedepan nanti semangat membangun ini akan mejadi bumerang."
Nelson mengaku, dirinya melihat kelebihan Adhan dari sisi membangun, selain itu ada topangan sikap yang komitmen dalam melaksanakan program-program pemerintahan. "Artinya ada program yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat Kota Gorontalo, Adhan sebagai walikota langsung melaksanakannya. Dan Adhan sendiri akan terus berjuang dan berusaha bagaimana program pembangunan dan aspirasi masyarakat dapat terlaksana dengan baik dan maksimal."
Namun dari semua itu ada pula kekurangan seorang Adhan yakni belum ada ruang terbuka. "Maksudnya pada saat komunikasi, interaksi dan partisipasi dari bawah perlu dibuka ruang agar kedepannya nanti program pemerintah sekarang dan kedepan dapat lebih kuat. Apalagi pembangunan itu merupakan bagian dari keinginan masyarakat, maka perlu kedepan nanti dibutuhkan pendampingan dan kontribusi dukungan dari semua pihak."
Nelson berpikir bahwa kalau Adhan melaksanakan tugas dengan baik, dan dia baru sekali menjabat, maka peluang kedepan sangat besar. "Selain peluang di Pemerintahan, Adhan juga menguasai politik di Golkar, maka peluag kedepan baik didaerah maupun diluar daerah sangat terbuka lebar. Akan tetapi kembali lagi kepada diri Adhan, apakah benar-benar menjalankan dan melaksanakan program pemerintah dengan baik dan maksimal serta merata kepada seluruh elemen masyarakat dan program itu harus diakui semua unsur masyarakat."
Kota Gorontalo kata Nelson, sebagai ibukota provinsi dapat lebih mensinergitaskan komunikasi dan hubungan serta program kerja dengan pemerintah kebupaten dan provinsi. Termasuk hubungan dengan perguruan tinggi dalam rangka mengoptimalkan terwujudnya program pembangunan. "Selain itu, ada grand strategi bagaimana membangun Kota Gorontalo yang tidak sekedar menrencanakan pada saat jabatan Adhan, akan tetapi ada lintas generasi kalau perlu untuk mengawal grand strategi itu bukan hanya pada periode Adhan, akan tetapi sampai 20 tahun berikutnya dan untuk penyusunan grand strategi itu sangat membutuhkan komitmen dan kerjasama semua pihak agar hasil yang dicapai benar-benar mewujudkan pembangunan yang memadai."

